Site icon J Farabundo Marti

Perang Diponegoro dan Perang Filipina Terhadap Penjajah

Perang Diponegoro

Asia Tenggara punya sejarah panjang soal perjuangan melawan penjajahan. Dua peristiwa besar yang sampai sekarang masih dikenang adalah Perang Diponegoro di Indonesia dan Perang Filipina melawan penjajah Spanyol dan Amerika. Kedua perang ini bukan cuma soal senjata dan darah, tapi juga tentang harga diri, keadilan, dan semangat mempertahankan tanah air. Yuk, kita bahas dua perang besar ini dengan gaya santai tapi tetap berisi!


1. Latar Belakang Perang Diponegoro

Perang Diponegoro atau sering juga disebut Perang Jawa (1825–1830) adalah salah satu konflik terbesar dalam sejarah Indonesia saat masih di bawah kekuasaan Hindia Belanda slot server hongkong.

Semuanya bermula dari rasa ketidakpuasan rakyat Jawa terhadap kebijakan kolonial Belanda. Pajak tinggi, korupsi di pemerintahan, dan campur tangan Belanda dalam urusan keraton Yogyakarta bikin situasi makin panas.

Puncaknya terjadi waktu pemerintah Belanda memasang patok jalan di tanah milik keluarga Pangeran Diponegoro tanpa izin. Buat sang pangeran, itu bukan cuma pelanggaran tanah, tapi juga penghinaan terhadap martabat bangsawan dan rakyatnya. Dari situ, api perlawanan pun menyala.


2. Jalannya Perang Diponegoro

Perang Diponegoro bukan perang kecil. Selama lima tahun penuh, perang ini menyebar hampir ke seluruh wilayah Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur.

Beberapa hal menarik dari jalannya perang ini:

Akhirnya, pada tahun 1830, Pangeran Diponegoro ditipu dan ditangkap saat perundingan di Magelang. Setelah itu, beliau diasingkan ke Makassar sampai wafat pada tahun 1855.


3. Dampak Perang Diponegoro

Perang Diponegoro meninggalkan jejak besar dalam sejarah Indonesia.

Perang ini juga menunjukkan bahwa kekuatan rakyat yang bersatu bisa mengguncang kekuasaan kolonial. Nama Diponegoro pun sampai sekarang masih dikenang sebagai salah satu pahlawan terbesar Nusantara.


4. Latar Belakang Perang Filipina Melawan Penjajah

Kalau di Indonesia ada Diponegoro, maka di Filipina ada tokoh-tokoh seperti Jose Rizal, Andres Bonifacio, dan Emilio Aguinaldo yang memimpin perjuangan melawan penjajahan.

Awalnya, Filipina dijajah oleh Spanyol selama lebih dari 300 tahun (sejak 1565). Pemerintahan kolonial Spanyol menindas rakyat lewat pajak tinggi, kerja paksa, dan sistem feodal yang berat sebelah.

Tapi pada akhir abad ke-19, muncul gelombang baru dari kaum terpelajar Filipina yang menuntut keadilan dan kebebasan. Dari sinilah lahir semangat revolusi.


5. Jalannya Perang Filipina

Perang melawan penjajahan di Filipina bisa dibagi jadi dua fase besar: melawan Spanyol (1896–1898) dan melawan Amerika Serikat (1899–1902).

5.1. Perang Melawan Spanyol (1896–1898)

Perang ini dipicu oleh eksekusi Jose Rizal, tokoh reformis yang dihukum mati oleh Spanyol karena dianggap memberontak. Padahal, Rizal sebenarnya memperjuangkan kemerdekaan lewat jalur damai dan pendidikan.

Setelah kematiannya, kelompok revolusioner bernama Katipunan yang dipimpin oleh Andres Bonifacio mulai mengangkat senjata. Perjuangan ini kemudian dilanjutkan oleh Emilio Aguinaldo, yang berhasil mengorganisir pasukan lebih rapi.

Pada 12 Juni 1898, Aguinaldo memproklamasikan kemerdekaan Filipina — menjadikannya negara Asia pertama yang mendeklarasikan kemerdekaan di era modern. Tapi sayangnya, kebahagiaan itu nggak berlangsung lama.

5.2. Perang Melawan Amerika Serikat (1899–1902)

Setelah Spanyol kalah dalam Perang Spanyol–Amerika, mereka menyerahkan Filipina ke Amerika lewat Perjanjian Paris (1898) dengan harga 20 juta dolar. Rakyat Filipina yang sudah merdeka tentu marah besar.

Maka terjadilah Perang Filipina–Amerika, di mana pasukan Aguinaldo melawan tentara Amerika yang jauh lebih kuat dan modern.

Namun semangat kemerdekaan rakyat Filipina nggak pernah padam.


6. Dampak Perang Filipina

Perang ini meninggalkan luka dalam, tapi juga melahirkan semangat nasionalisme yang kuat.


7. Kesamaan Antara Perang Diponegoro dan Perang Filipina

Meskipun terjadi di negara dan waktu yang berbeda, dua perang ini punya banyak kesamaan menarik:

  1. Dipicu oleh Ketidakadilan dan Penindasan
    Baik Diponegoro maupun rakyat Filipina sama-sama marah karena tanah dan kehormatan mereka diinjak-injak penjajah.
  2. Digerakkan oleh Tokoh Kharismatik
    Pangeran Diponegoro dan Emilio Aguinaldo sama-sama pemimpin yang dicintai rakyat. Mereka punya visi kuat buat melihat bangsanya bebas.
  3. Dukungan Rakyat yang Luas
    Perang ini bukan cuma perang elit, tapi perang rakyat. Semua lapisan masyarakat ikut berjuang, dari petani sampai bangsawan.
  4. Menggunakan Taktik Gerilya
    Kedua perang sama-sama memakai taktik gerilya untuk melawan pasukan kolonial yang lebih kuat secara teknologi.
  5. Meninggalkan Semangat Nasionalisme
    Walaupun akhirnya kalah secara militer, kedua perang ini sukses menyalakan api nasionalisme yang nggak bisa dipadamkan sampai hari ini.

8. Warisan Kedua Perang Itu Hari Ini

Kalau kita lihat kondisi sekarang, semangat dari dua perang ini masih hidup dalam berbagai bentuk:


Dari Yogyakarta sampai Manila, dari gunung ke pesisir, rakyat Asia Tenggara membuktikan bahwa keberanian bisa muncul dari penderitaan. Meskipun kalah secara militer, mereka menang secara moral dan sejarah.

Kini, tugas generasi kita adalah menjaga semangat itu tetap hidup — bukan dengan senjata, tapi dengan ilmu, persatuan, dan tekad untuk membangun bangsa yang benar-benar merdeka, lahir dan batin.

Exit mobile version